Psikotes Pendidikan

Pada sejarahnya dunia mengenal  beberapa teori mengenai kecerdasan. Pada awal tahun 70 –an di US  ada survei IQ pada orang muda yang menunjukkan bahwa kelompok orang muda hitam dan kelompok miskin, IQ nya lebih rendah daripada kelompok kulit putih dan kelompok orang kaya.

Padahal saat itu ada pengertian bahwa kecerdasan itu diturunkan (genetik). Adanya hasil survei ini memunculkan gelombang protes dari kelompok ilmuwan sosial yang melihat bahwa nanti IQ bisa digunakan untuk alat diskriminatif terhadap orang hitam dan miskin. Sebab dalam kenyataannya di lapangan pada waktu itu masalah kebodohan itu berkaitan erat dengan masalah sosial seperti kriminalitas dan obat obatan. 

Gelombang protes ini yang meluncurkan suatu pendekatan (ide) baru bahwa kecerdasan bukan karena diturunkan tetapi karena ditempa. Dari sinilah munculnya konsep Multiple Intelligence dengan salah satu tokohnya yang terkenal adalah Howard Gadner.

Konsep Multiple Intelligence terus berkembang di lapangan.. Sementara IQ sebagai alat ukur inteligensi secara klasik juga semakin berkembang.

Dari dua kubu itu terkenal dengan NATURE VERSUS NURTURE.

Nah di era tahun 1980-an itu, para psikolog mengembangkan pendekatan  NATURE + NURTURE sebagai akibat  dari konflik . NATURE VERSUS NURTURE.

Salah satu tokoh dengan pendekatan NATURE + NURTURE adalah Kurt Heller itu yang terkenal denga teori Model Munich  , yang kemudian meletakkan apa yang oleh Howard Gardner sebagai inteligensi dirubah menjadi bidang-bidang prestasi.


Jadi dengan pendekatan Kurt Heller, posisi inteligensi dikembalikan lagi, bahwa inteligensi itu potensi bawaan yang harus didukung agar muncul menjadi bidang-bidang prestasi. 

Di LPT CINDO sudah menganut pendekatan Kurt Heller pada produk Psikotes Pendidikan dengan tujuan agar potensi anak didik lebih  bisa dimaksimalkan dengan pendekatan teori kecerdasan yang baru dan sinergi dengan kebutuhan masa deban anak. Dengan mengakomodasi kecerdasan berbasis IQ dan kecerdasan presetasi yang berbasis Multiple Intellegence. Ditambah dengan pendekatan yang lain seperti Multisensori, Personality Intellegence, dan pemberdayaan otak dengan Brain Hemisphre Test, Konsep Diri dll.

Aspek aspek yang diungkap meliputi:

  • Tes kecerdasan (IQ),
  • Tes emosional (EQ),
  • Tes Spiritual Quotien, (SQ)
  • Tes Adversity Quotien. (AQ)
  • Tes konsep diri
  • Tes Kepribadian
  • Tes Dominasi Otak
  • Tes Multiple Intellegence
  • Tes Gaya belajar Anak
  • Tes Personality Intellegence
  • Tes penjurusan & tes minat bakat
  • Konsultasi & evaluasi, meliputi masalah pendidikan dan pertumbuhan anak serta kematangan social
  • Training Pendidikan,meliputi training guru efektif dan bimbingan remaja
  • Mind Tehnology for student (motivasi)

 

1. Test Multiple Intelligence

Setiap orang memilki kecerdasan yang berbeda. Prof. Howard Gardener seorang ahli riset dari Amerika mengembangkan model kecerdasan "multiple intelligence". Multiple intelligence artinya bermacam-macam kecerdasan. Ia mangatakan bahwa setiap orang memilki bermacam-macam kecerdasan, tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda. Yang di maksud kecerdasan menurut Gardner adalah suatu kumpulan kemampuan atau keterampilan yang dapat ditumbuh kembangkan.

Menurut Howard Gardener dalam setiap diri manusia ada 8 macam kecerdasan, yaitu:

  1. Kecerdasan linguistik
  2. Kecerdasan logik matematik
  3. Kecerdasan visual dan spasial
  4. Kecerdasan musik
  5. Kecerdasan interpersonal
  6. Kecerdasan intrapersonal
  7. Kecerdasan kinestetik
  8. Kecerdasan naturalis


2. Test Dominasi otak kanan - otak kiri

Otak adalah bagian paling vital dari tubuh manusia. Walaupun beratnya hanya sekitar dua persen dari bobot tubuh, namun di dalamnya terdapat puluhan ribu syaraf dan jutaan sel yang menjadi pusat kontrol utama tubuh kita.

Secara motorik, otak bagian kiri berfungsi mengendalikan tubuh sebelah kanan, sementara otak kanan mengendalikan belahan kiri. Dua bagian otak tersebut juga memiliki tugas masing-masing: Otak kiri umumnya berfungsi untuk kemampuan bicara, rasio, akademis dan keteraturan (bersifat analistis). Sementara otak kanan lebih mengarah pada kemampuan visual, intuisi, dan seni (bersifat kreatif).

Perbedaan teori fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960. Seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Atas jasanya ini beliau mendapat hadiah Nobel pada tahun 1981. Selain itu dia juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya.

• Dominasi otak kiri: Biasanya menyukai hal-hal yang bersifat eksakta, rasional dalam bertindak, gemar menyusun segala sesuatunya secara sistematis, memiliki kemampuan analistis yang sangat baik, tidak ekspresif, kemampuan berhitung dan daya hafal baik.

• Dominasi otak kanan: Menyukai hal-hal yang bersifat seni, mengadakan intuisi dalam bertindak, gemar membuat suatu tampilan menjadi menarik dengan warna dan bentuk, memiliki kemampuan visual dan spasial yang sangat baik (misalnya mengingat bentuk dan gambar), ekspresif, kemampuan dalam melukis, kerajinan tangan dan musik yang baik.

3. Test Type Belajar Anak

Setiap individu tidak hanya belajar dengan kecepatan yang berbeda tetapi juga memproses informasi dengan cara yang berbeda. Cara memproses informasi yang diperoleh dikenal dengan istilah gaya belajar. Menurut DePorter dan Hernacki (2002), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Terdapat tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality). Ketiga gaya belajar tersebut adalah gaya belajar Visual (belajar dengan cara melihat), Auditory (belajar dengan cara mendengar), dan Kinesthetic (belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh). Pada dasarnya setiap individu menggunakan semua indera dalam menyerap informasi.

Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.

4. Test Personality Intelligence

Tiap saat kita berhadapan dengan bermacam-macam situasi. Terutama ketika berhubungan dengan orang lain.

Florence Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia. Kalau saja semua sudah kita pahami, kita akan sangat terbantu sekali dalam berhubungan dengan orang lain.

Test ini mengungkap apakah anda termasuk Koleris, Sanguin, Plgmatis, atau melankolis.?

More in this category: Psikotes Industri »